Sabtu, 29 Oktober 2016

Aku Seharusnya

Aku seharusnya membaca
ada yang ingin memecah belah kita
sesosok bernama dia

Aku seharusnya menulis
sebab-sebab yang dapat membuatmu menangis
hadirku yang kini mulai kau tepis

Aku seharusnya mendengar
rindu yang kini kian samar
kita yang mulai tercemar

Aku seharusnya melihat
luka yang kian memekat
ada sosok yang untukmu begitu memikat

Aku seharusnya berdiam
luka yang mendalam
biar semakin terpendam

Aku seharusnya....
seharusnya yang menurut kamu
seharusnya yang menuntut kamu
Padanya

Selasa, 30 Agustus 2016

Hai, Kamu

Seharusnya ketidakyakinan di awal itu sudah merupakan pertanda
Tapi kita saja angkuh ingin berjuang bersama. Selamanya.

Aku lebih senang melihatmu yang sekarang. Yang sudah tidak ada kata kita di antara kamu dan aku. Tetapi kamu lebih terlihat bahagia. Badanmu lebih berisi. Untuk siapa yang akhirnya membuatmu bahagia, lebih baik aku menutup mata.


Jumat, 18 Maret 2016

Maaf

Untuk setiap rindu yang tak pernah bisa terjamu, aku minta maaf
Untuk setiap pertemuan yang akhirnya berakhir dengan pertengkaran, aku minta maaf
Untuk setiap hari yang kamu merasa sepi tanpaku yang ada di sisi, aku minta maaf
Untuk setiap tetes air yang keluar dari matamu, aku minta maaf
Untuk setiap gores luka yang membekas dihatimu, aku minta maaf
Untuk setiap sikap acuhku, aku minta maaf
Untuk setiap cemas saat jarak tercipta, aku minta maaf


Sabtu, 05 Maret 2016

Bolehkah?

Bolehkah kali ini aku yang menyerah?
Bolehkah kali ini aku yang tak peduli?
Bolehkah kali ini aku yang menghilang?
Bolehkah kali ini aku yang berhenti memikirkanmu?
Bolehkah kali ini aku yang diam?
Bolehkah kali ini aku yang pergi meninggalkanmu?

Ah sialnya, aku tak pernah tega untuk melakukannya
Biar saja seperti biasa, aku yang memperjuangkan kita. Sendiri.
Sampai kamu yang meminta untuk tak lagi melakukannya

Sekelumit Pikiran

Dimulai lagi
Seperti biasa selalu melihat hanya dari satu sisi
Selalu menganggap benar
Bahkan dengan mudah selalu menyalahkan

Apa semua tindakanmu benar?
Apa semua yang kamu lakukan tak pernah lepas dari salah?

Ya, seperti ini aku sudah biasa
Dijadikan landasan untuk segala salahmu
Tapi, satu yang mungkin dilupa
Sabar juga punya waktunya sendiri

Ia juga kadang ingin sendiri
Kadang ingin terlepas
Ingin bebas
Ingin tak menjalalani apapun

Mungkin tenang itu hanya sebuah angan
Khayal yang ntah dimana tak dapat dirasa
Dari seseorang bernama aku

Lantas, jika bersama menyudutkan bukankah berpisah bisa saja menjadi suatu yang melapangkan?

Selasa, 16 Februari 2016

Terima Kasih, Kisah

Sudah saatnya melepas apa yang awalnya begitu aku harap; kita

Untuk tiap kisah aku berterima kasih
Untuk tiap pelukmu yang menenangkan, aku berterima kasih
Untuk tiap tawa dalam duka, aku berterima kasih
Untuk tiap kabar dalam sepi, aku berterima kasih
Untuk tiap debar yang pernah ada, aku berterima kasih
Untuk rindu yang pernah hinggap, aku berterima kasih
Untuk cemas yang begitu menggemaskan, aku berterima kasih

Selamat jalan, kita

Semoga bisa tenang di alam sana