Sabtu, 31 Agustus 2013

Cinta Pajak, Pajak Cinta

Aku ingin mengukuhkan diri menjadi tunggal di hatimu
Siap berjuang untuk dapat perhatianmu
Menyetor temu jika kamu rindu
Melapor kegiatanku setiap tanggal yang kamu ingin

Tapi....

Dari masa ke masa hadirmu selalu nihil
Kadang aku dibuat putus asa karnanya
Ada saja caramu melakukan penghindaran
Sulit meyakinkanmu untuk menetap di aku

Perjuanganku seakan tak pernah lebih bayar di hadapanmu
Selalu saja kurang bayar
Mungkin sebenernya hanya dia yang kamu tagih adanya

Selalu Ada

Selalu ada jumpa
Selalu ada kata
Selalu ada cerita
Selalu ada canda
Selalu ada tawa
Selalu ada rasa
Selalu saja dia

Minggu, 11 Agustus 2013

Pentas

Naskah sudah dibuat
Berharap pertunjukkannya memikat
Setelah pengorbanan yang bertahap-tahap

Pertunjukkan pun dimulai....

Sama seperti kisah lainnya
Selalu mengundang senyum
Mengandung perhatian
Decak kagum selalu terlontar
Menghidupkan detak yang bergetar

Tubuh yang kecanduan lengan
Rindu yang dengan ramahnya terjamu
Sepi yang dibuat semu
Cinta yang membuat semua bersemi

Ini hanya awal....

Ragu kemudian hadir menuntaskan drama
Tanpa ampun memporak-porandakan percaya
Menghasut para pemainnya agar terperdaya;kita


Rasaku

Luka

Murka

Duka

Suka

Menerka


Semua itu pernah terjadi padaku
Terserah kamu mau merangkainya seperti apa

Kamu Itu (bukan) Rumah

Ini sudah malam
Seharusnya kamu sudah di rumah
Berada di balik selimut
Melindungi tubuhmu dari dingin
Baca semua buku yang kamu ingin
Agar kamu cepat terlelap
Agar aku tetap berusaha mendekap

Tidak seperti sekarang
Masih berkeliaran di luar
Entah apa yang kamu lakukan
Untuk hal itu
Aku tak mau tau
Tak peduli lebih tepatnya
Aku sudah menutup mata
Menutup kedua telinga

Kamu itu rumah tempat aku pulang
Aku harus tinggal dimana, jika kamu masih saja berkeliaran?

Lebih mudah bagiku untuk pergi dan mencari sebenarnya rumah
Tempat aku menetap dan disambut hangat
Tapi, tidak aku lakukan bukan?
Aku tetap memperjuangkanmu
Ingin kamu yang nantinya menjadi tujuanku pulang

Tak usah tanya berapa luka yang sudah aku jahit sendiri karenanya....

Rabu, 07 Agustus 2013

Cintakuntansi

Sudah berapa kali aku bilang
"aku tak pandai berhitung!"
Terlebih untuk mengalikan satuan rindu
Lalu, membaginya dalam jurnal-jurnal pertemuan
Kamu masih saja menyuruhku
Itu berat

Pasti selalu kurang
Entah karena rinduku begitu cepat bertambah
Entah karena transaksi kehadiranmu yang sengaja hilang

Tak bisa untuk dicatat
Bukti tanpa kehadiranmu itu sebuah cacat
Mudah untuk kamu berkata
"samakan saja hadirku dengan pesan yang aku tinggalkan di jurnal penyesuaian"


Kalau itu maumu, baiklah
Aku tutup jurnal ini
Tak apa merugi karena melepasmu
Adamu dengan cara seperti itu juga tidak menguntungkanku

Sosok Ibu Yang Aku Lihat Padamu


Sosok ibu yang aku lihat padamu
Kamu memang tak tau
Dan sebaiknya begitu
Aku takut
Takut jika kamu tau akan membuatmu jumawa
Dan pesona itu akan lenyap di mataku

Aku lupa
Tak mungkin kamu begitu
Sosok sederhana, yang bahkan tak pernah menilai dirimu lebih
Sosok yang mudah membaur
Membuat banyak pria betah singgah
Bahkan banyak yang ingin menetap di kamu
Sial, untuk hal itu kamu selalu sukses membuat aku cemburu
Padahal aku tau, diingat olehmu pun kadang tidak

Beruntung pasti, seseorang yang kelak dipanggil ‘ayah’
Oleh bayi yang lahir dari rahimmu
Ah, andai itu aku
Jika tidak bisa
Biarkan aku terus begini
Berdansa dengan khayalku tentangmu

Senin, 05 Agustus 2013

Kata Yang Tak Lagi Berkita


Perbincangan
Siang itu
Kamu dan aku
Menumpahkan segala isi dari berbagai sisi

Ditemani cokelat hangat punyaku
Jus strawberry menu favorit yang biasanya kamu pesan
Di tempat yang selalu mudah untuk menulis memori
Tempat yang entah mengapa memang di-setting untuk kita

Percikan sungai sebagai latar
Saat kita berbagi cerita, canda dan keluh
Suara yang bisa menenangkan dalam keadaan riuh
Daun-daun yang dengan gagahnya melindungi dari pancaran mentari
Teduh

Tapi, siang itu
Tak ada lagi kesuluruhannya
Buyar
Ada sakit yang sudah tak terbayar
Saat sudah tak ada yang bisa kuucap
Kita yang olehmu ingin diakhiri
Aku yang pendiam ini
Makin terperosok dalam-dalam
Sepenggal kata untuk sepeninggalan kamu
Sulit aku ucap


Kamis, 25 Juli 2013

Tsurhat


Aku tak bisa mengenangmu
Kita kan belum punya cerita
Ingat?
Aku yang terlalu cepat
Atau kamu yang sudah membuat sekat?
Usahaku seperti mendobrak tembok
Yang mungkin kamu sendiri tak tau tebalnya
Coba sedikit menggunakan hatimu
Pakai lebih banyak pikiranmu
Bukankah hanya aku yang begitu lantangnya berkata
“hai ini aku yang ingin berjuang karena dan denganmu?”
Aku telah mempunyai banyak rencana yang ada kamunya disitu
Bahkan rencana itu sudah aku beri tau ke Tuhan
Tapi kamu tenang saja
Saat membaca ini, aku sudah tak apa
Sudah tak lagi mengiba, terlebih ingin menjadikanmu sosok ‘ibu’
Semoga bahagia selalu mengiri jalanmu, doa terakhirku



Dariku,                                                        
 yang rindunya belum sempat kamu jenguk


Sabtu, 25 Mei 2013

25 Mei


Buku dengan lembaran yang sama
Tak tergores apapun
Debu-debu penghias sampulnya
Ingin menulis apa jika tak punya cerita?

Kamu yang seharusnya menghiasi
Justru menghindar menjauhkan diri
Susah untuk menata kata yang tak ada kita
Jemari enggan menoreh, padamu yang terus menoleh

Aku biarkan saja buku itu usang, melapuk
Tetap tak berisi
Tersimpan rapi di almari kenangan
Tetap kosong saat ingin aku baca
Tak apa, biarkan saja



Senin, 20 Mei 2013

Tanpa Kamu

Langitnya tak berawan....
Setelah kamu pergi meninggalkan kota....
Hanya hamparan biru, pengiring sepiku yang baru....

Hari yang terjalani jalan di tempat....
Matahari bersinar jika sempat....
Lebih banyak mendung yang memutar....
Waktu pun mulai malas berputar....

Kicau burung di pagi hari....
Hanya membuatku meracau....
Kegiatan yang aku lakukan menjadi kacau....
Hati semakin resah, risau....

Tak sadar pipi ini basah....
Mengalir deras tanpa ada yang membasuh....

Kamu jika pergi jangan merintiskan rindu, rentaskan saja pilu


Senin, 15 April 2013

Keluhku

Terlelapku pada sebuah dekap
Tak sadar itu hanya sekejap
Teriak yang jadi terisak
Menghisap kita dan membuat pemikiran ini berasap

Seperti memegang bom waktu di tangan
Bersamamu semestinya cukup dalam angan
Bagaimana tidak?
Semaunya kamu itu semuanya menyakitiku

Ini keluhku

Kuakui, kamu itu memang memukau
dan mampu memaku aku
Apa karna itu kelakuanmu begitu memuakkan?

Pintarnya kamu yang membodohiku
atau bodohnya aku yang memintarkanmu?
Entahlah
Bahkan saking jengkelnya aku ingin kamu enyah
Jahat memang

Ini keluhku

Biar
Biarkan saja aku berkeluh pada sajak, pada tulisanku
Tapi kamu harus ingat sebesar apapun aku menuangkannya,
aku sudah menumpahkannya ke kamu, bukan?

Melenyapkanmu, Melengkapkanku

Sabtu, 06 April 2013

Puisi

Puisi....
Lonceng yang dengan mudahnya berbunyi....
Untuk hari-hari yang terasa sunyi....
Agar tetap berjalan layaknya aliran sungai....

Puisi....
Rajutan kata tempatku pulang saat tak ada lagi kita....
Perhatianmu yang olehnya mulai tersita....
Kenangan tentangmu yang masih bersisa....

Puisi....
Diam yang paling riuh untuk berkeluh....
Jeritan yang sangat ricuh, tapi semua tersembunyi....

Puisi....
Caraku menyapu sepi, menyepikan ramai....
Menyipukan semua....