Senin, 14 Desember 2015
Jika, Semoga
Jika sekiranya nanti kita menyerah, semoga tak ada yang terlukanya begitu parah
Jika sekiranya nanti kita menjauh, semoga mampu menyempatkan diri mengenang bahwa kita pernah begitu dekat
Jika sekiranya nanti kita berpisah, semoga tak ada lagi yang yang saling menyalahkan
Jika sekiranya nanti kita menyesal, semoga mengingat yang dahulu kita tak menjadi sesak
Jika sekiranya nanti kita sudah tak bisa jumpa, ingat saja siapa yang pernah begitu bahagia saat saling sapa
Dan jika nanti semogaku tak bisa kamu aminkan, aku hanya bisa berharap kamu senantiasa aman.
Jumat, 23 Oktober 2015
Jawaban Doa
Waktu kening lagi menyentuh sajadah cuman bilang kurang lebih seperti ini, "dekatkan sama yang baik-baik dan yang lebih membuat jadi baik. Sudah lelah sama yang membuang-buang waktu".
Eh, sekitar sebulan kemudian kok dipertemukan sama kamu.
Masa' mau mengingkari bahwa kamu adalah jawaban doa sih?
Sabtu, 10 Oktober 2015
Begini Lebih Baik
Nanti yang ntah kapan
Saat kamu yang berbalik merindu dan menanyakan bagaimana tentang kita, semoga aku sudah dapat menjawab
"begini lebih baik"
Rabu, 09 September 2015
Perihal Menetap dan Tak Pergi
Daripada meributkan hal-hal kecil
Seperti siapa yang lebih menyayangi?
aku ke kamu atau kamu ke aku?
Siapa yang lebih parah terluka?
aku atau kamu?
Toh, masing-masing dari kita pun tau, punya porsi salah dan benarnya sendiri
Bukan anak remaja lagi yang selalu mengumbar agar tidak menjadi hambar
Bagiku, selama keinginan masih sama, selalu ingin bersama, masih saling percaya, saling membutuhkan, itu bukan menjadi suatu masalah
Pada akhirnya, pembuktian dari siapa yang lebih, hanya perihal terus menetap dan tak pergi lagi
Jumat, 04 September 2015
Perkara Rindu
Baru mampu mengungkapkan kalimat terakhir dari tulisan ini
Untuk disampaikan langsung kepadamu, aku takut kamu terbebani
"Tak tau asalnya darimana. Jangan lebih membebani dengan pertanyaan mengapa. Perkara rindu, sudah pasti kamu."
Kamis, 13 Agustus 2015
Yang
Yang di sini rindu
Yang di sana sedang bercumbu
Yang di sini menggigil dengan masalah pelik
Yang di sana hangat saling bertukar peluk
Yang di sini masih berharap
Yang di sana sedang dalam dekap
Yang di sini sedang tersungkur
Yang di sana ceria berucap syukur
Kamu sedang menjalankan peran yang mana?
Rabu, 05 Agustus 2015
Tempat Tinggal
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh satu menit. Malam hari. Cemasku begitu gemas dengan tidak adanya kabar darimu yang akhir-akhir ini sering kabur. Padahal udara di luar rumah sedang berkabut. Di dalam pikiranku sedang berkalut.
Sebuah rumah yang seharusnya menyambut kepulangan dengan ramah, sedangkan ini dipenuhi dengan api amarah. Layaknya petir yang mampu merusakkan rumah, getir-getirmu meluluhlantahkan getar-getar yang pernah ada.
Yang seharusnya menjadi terakhir, justru ingin semua ini berakhir.
Yang ingin dijadikan tempat tinggal tak pernah bisa menjadikanku tunggal.
Ah, aku terlalu banyak ngelantur. Sebenernya, tak terlalu penting apa yang aku tulis pada paragraf-paragraf sebelumnya, aku hanya ingin menyampaikan,
"aku hanya salah meninggali rumah, kemudian ditinggalkan."
Kurang lebih seperti itu.
Sabtu, 25 Juli 2015
Sedikit Aku Bercerita Tentang Kita
"Pada tiap sudut kota ada kita yang selalu memuat cerita"
Tak perlu sebuah dekap untuk senantiasa dekat
Tak perlu sebuah kecup untuk merasa cukup
Selama nada-nada percaya kita masih senadi, kita akan baik-baik saja
Kita begitu sederhana
Asal mendapat kabar bahwa masing-masing dari kita baik-baik saja
Itu sudah merupakan suatu bahagia
Bukan seberapa sering sebuah pertemuan itu, tapi bagaimana cara perayaannya
Tak dipungkiri, egoku pernah sangat lelah untuk terus meleleh
Tapi apa kamu ingat aku tak pernah gagal untuk mencegahmu dari gigil?
Kadang kita pernah merasa rindu itu tak pernah kalah dia hanya mengalih
Kadang ego yang terlalu banyak mengeluh
Tapi kadang kita merasa hal ini sia-sia
Terlalu banyak memupus asa
Ah, tapi siapa peduli?
Selama bagiku dan bagimu adanya kita masih sangat berarti
Terakhir dan yang paling penting dari keyakinan kita
Jarak terjauh dari kita adalah berdekatan tapi tak saling mendoakan
Senin, 06 Juli 2015
Dari Orang Yang Selalu Bahagia Saat Kamu Panggil "Payi"
"Payi, aku dah mau bobok ya. Ngantuk banget ini." Ketika aku melihat jam di dinding kamarku yang masih menunjukkan pukul 9. Hal yang meyakinkanku bahwa kamu sedang bahagia. Sedang tidak ada beban pikiran. Terlihat dari make up terbaik yang sebenernya sudah kamu miliki tapi kamu kadang mengingkarinya yang selalu nampak. Ya yang aku maksud adalah senyummu.
"Payi, sebenernya lagi bingung mau ikutan main atau enggak, soalnya diajak temen. Tapi aku milih gak main karna kayaknya akhir-akhir ini kebanyakan main mulu. Kayak yang lagi gak bahagia aja, mending beberes kosan aja deh." Kalimat yang menunjukkan sisi dewasamu, sekaligus sisi kekanakanmu dalam satu waktu. Kedewasaan bisa dilihat dalam hal-hal sederhana bukan? Bahkan dalam sisi kekanakanmu, kamu juga bisa terlihat dewasa.
"Payi, mau cerita, tapi gamau cerita. Tapi gak bisa kalo gak cerita ke payi. hehehehe. Jadi tuh, aku sekarang ini lagi dideketin sama orang gitu. Bingung karna dia itu baik dan temen aku juga."
"Terus maunya gimana? Udah punya pilihan?"
"Yakan ada Payi. Ish. Gitu deh sukanya kayak gak jagain aku."
"Iya-iya dijagain kok." Mungkin balesan chatku hanya seperti itu sembari dalam hati berdoa agar keyakinanmu tak akan berubah. Karena aku pun seperti itu, seberapa banyak pilihan yang tersaji, keputusanku selalu kamu saja.
Selasa, 30 Juni 2015
Y.P.S
Minggu, 26 April 2015
Kamu dan Hanya Bisa Kamu Saja
Terlepas bagaimana yang aku pernah rasa
Menikmati cara pandang seperti dirimu senantiasa luar biasa
Kamu dan hanya bisa kamu saja
Disaat yang lain menekuni hobi mengeluh
yang mereka tampilkan wajah yang lusuh
Hal seperti itu kamu jadikan musuh
Dewasa ini, banyak yang begitu kekanakan
Kamu, kekanakan yang begitu mendewasakan
Kamu dan hanya bisa kamu saja
Kamu dan hanya bisa kamu saja
Kamu dan hanya bisa kamu saja
Begitu seterusnya sampai mungkin kamu benar-benar ada