Minggu, 19 Agustus 2012

Rindu


Alunan melodi menghiasi malam senyap
Angin sepi pun mulai mendekap
Menggigil menyelusuri sisi gelap
Keinginan temu yang terus menetap

Beriringan sang fajar yang mulai tiba
Perjumpaan ini masih menyisakan asa
Walau dengan meronta-ronta
Memanggil namamu yang jauh disana

Jarak ini bangsat
Melarang dua insan yang begitu dekat, untuk terus merekat
Keluh kesah hingga umpatan telah begitu melekat
Perjuangan tanpa henti pun terus dilakukan hingga habis keringat

Tak tahanku dengan kekosongan yang terus mengadu
Membiarkan hati ini tersedu
Tak tahanku untuk mengucap “aku rindu kamu”
Kelak kuharap sebuah peluk bisa langsung menyapu,
lalu berkata “selamat tinggal jarak”

Jumat, 10 Agustus 2012

Surat Untuk Kamu


Dear kamu,

Entah saat ini apa yang sedang terjadi, bingung untuk terus bertanya, hal ini seakan penuh misteri. Bukan salahmu ataupun salahku. Ini salah kita, yang abai terhadapnya. Kita terlalu sering menganggap pada masalah yang seharusnya diungkap. Tak hanya kamu,aku disini juga telah membenci jarak, bosan ku dengan apa yang disebut rindu. 

Kamu tau kan, aku tak pernah mau berkata ini baik lisan atau tulisan? Bukan karena aku tak merasakan, aku takut jika hanya perkataan ini akan menambah beban. Bagiku dan juga bagimu. Mungkin terlihat omong kosong, tapi yakinlah disini aku masih berusahamu memelukmu dalam tiap doaku. Biarkan Dia yang menjagamu. Dan waktu untuk mengizinkan agar kita bisa cepat bertemu.

Mungkin kamu melihat foto maupun videoku tertawa, tersenyum, ia aku gembira, tapi tetap tak menenangkan saat bersamamu. Aku pernah bilang kan, kalau duduk diam tak perlu menatap pun mendekap saat bersamamu itu lebih menenangkan dibanding apapun, kamu ingat kan?

Tak perlu kamu bersedih hingga meneteskan air mata saat membaca ini. Aku masih kuat, aku masih mampu untuk terus menimbun rindu, mempertahankan ‘kita’. Kuharap nanti pertemuan bukanlah hanya sekadar kata.


 
                                                          Di Sudut Kamar, 10 Agustus 2012       

Minggu, 05 Agustus 2012

(Masih) Tanya ke Kamu

Masih mampu mempertahankan suatu hubungan yang menyimpan banyak keraguan?
Masih mampu memeluk pada masalah yang sebenarnya pelik?
Masih mampu berkelit pada tiap keluh kesah yang telah sulit?
Masih mampu bermimpi bahagia pada derita yang tampak seperti cerita?
Masih mampu mendekap pada hati yang sebenarnya sudah tak lengkap?
Masih mampu mengalah pada apa yang sebenarnya hanya dia yang salah?
Masih mampu menjerat pada hati yang sebenarnya telah menjerit?
Masih mampu menetap padanya yang sudah ingin menutup?
Masih mampu berangan padanya yang sudah tak beringin?
Masih mampu berpura pada hati yang telah banyak menyimpan lara?
Masih mampu berteriak pada hati yang sebenarnya telah terisak?
Masih mampu tinggal padanya yang tak lagi menjadikan kamu tunggal?


Kita, apa yang seharusnya sudah terpisah tapi seolah belum menyerah.



Sabtu, 04 Agustus 2012

Diam

Diam....
Banyak arti, banyak makna ketika kamu melakukannya....
Berharap aku mengerti,
pada apa yang sebenarnya hanya kamu yang sadari....

Diam....
Kadang bisa berarti pembebasan, seringkali berarti ketidakpedulian....
Mungkin kamu juga sudah lelah pada keadaan,
atau juga bentuk suatu pengingkaran....

Diam....
Hal yang sebenarnya menyakitkan bagiku, terlebih bagi dirimu sendiri....
Hal yang sering membuat kita sering menduga, menaruh curiga,
pada apa yang sebenarnya dapat terucap melalui kata....
Hal yang menyiksa....
Hal yang nantinya aku akan melepasmu dengan terpaksa....


Diam, itukah caramu membiarkan masalah ini semakin mendalam?